Sunday, April 21, 2019

Menggunakan Media Sosial Dengan Lebih Sehat dan Bermakna


Sejak sebelum saya menghadapi Ujian Nasional SMK hingga saya bekerja, saya berhenti menggunakan hampir semua sosial media yang saya miliki. Karena terbengkalai terlalu lama, beberapa diantaranya tidak dapat saya akses karena saya lupa password-nya, maklum karena saya terlalu sering berganti-ganti password kala itu. Mungkin semua itu merupakan terapi dari Tuhan, supaya saya bertaubat dan membuka lembar baru. Ya, mungkin benar adanya, karena dulu aktivitas saya di sosial media memang tidak terkontrol. Meskipun merasa menyesal, saya harus melupakan semua akun-akun sosial media saya sebelumnya. Sejak saya memasuki bangku perkuliahan, saya memutuskan untuk menggunakan nomer HP baru dan membuat sosial media baru, serta berusaha menggunakannya untuk hal yang berbeda.
Sejak saat ini saya memiliki beberapa akun media sosial yang cukup populer pada saat ini. Saya mempunyai Instagram, Youtube, Facebook, Whatsapp, Google Doc, Google Classroom, Gmail, Snapchat, WeChat, Line, Linkedln, dan Google+. Dari berbagai aplikasi tersebut, aplikasi yang paling sering saya gunakan adalah Instagram, Facebook, WhatsApp, dan Line. Saya bukan orang yang selalu aktif di sosial media, dengan kata lain saya membatasi penggunaan sosial media tersebut, bahkan terkadang saya tidak memperdulikan notifikasi-notifikasi yang muncul. Saya kira, dengan membatasi penggunaan sosial media tentunya saya dapat meminimalkan pengguanaan internet.
Dari semua akun sosial media yang saya miliki, yang terfavorit adalah Instagram. Dengan Instagram saya dapat sharing video dan foto dengan hastag. Tentunya, aplikasi ini lebih menarik dengan feature follow-unfollow-like, story, siaran langsung, dan add comment. Dari beberapa feature tersebut, saya hanya menggunakannya untuk sharing foto dan video serta tag teman-teman di dalam foto, follow akun-akun yang menarik, dan membuat story. Dengan demikian kesempatan untuk menambah teman jadi lebih banyak, karena lingkupnya tidak terbatas. Berbeda halnya dengan aplikasi YouTube, saya tidak pernah berbagi video, mungkin lebih tepatnya disebut pengguna pasif. Saya sangat menyukai Korean Drama, turorial memasak, tutorial berbahasa Inggris dan banyak lainnya. Di aplikasi ini saya juga enggan untuk meninggalkan komentar-komentar, apapun bentuknya.
Saya berkomunikasi dengan keluarga dan teman melalui WhatsApp dan Line, menurut saya kedua aplikasi ini merupakan aplikasi yang cukup memberikan fitur-fitur umum yang saya butuhkan sebagai pengguna aktif. Saya dapat mengirim berbagai item baik dalam bentuk file document, foto, video, dan suara. Selain itu, saya juga dapat melihat status teman-teman dan mengetahui apakah mereka sedang online dari kedua aplikasi tersebut.
Berikutnya adalah Facebook. Facebook adalah aplikasi yang paling sering saya buka, namun bukan untuk memposting foto-foto pribadi dan hal-hal pribadi saya. Saya hanya menggunakannya untuk mengikuti beberapa grup yang menurut saya menarik dan memang sesuai dengan kebutuhan saya, tujuannya hanya sebatas untuk memberikan informasi (sharing), info yang bermanfaat yang saya terima, biasanya saya kirim ke beranda saya sendiri agar teman-teman saya dapat membacanya. Selain itu, saya dapat mencari informasi (menerima informasi) mengenai LK Fakultas Psikologi, Jual Beli, Lowongan Kerja, Pecinta Kucing, Pecinta Kura-kura, dan Kuliner. Selain itu, saya juga menggunakannya untuk membaca berita seputar Salatiga dan berita dari The Straits Time Singapore, yangmana merupakan koran favorit sejak saya berkerja.
 Aplikasi Gmail, Google Doc, Google Classroom, Google+ menurut saya merupakan aplikasi yang wajib dimiliki semua mahasiswa. Mengapa demikian? Karena ketiga aplikasi tersebut sangat mendukung perkuliahan. Saya menggunakan Gmail untuk info perkuliahan dan pengumpulan tugas-tugas perkuliahan. Pada dasarnya aplikasi Gmail memang jarang sekali saya gunakan untuk berkirim pesan pribadi. Sementara untuk Google Doc, saya lebih menggunakannya untuk editing tugas bersama dengan teman-teman sekelompok, jadi kami tidak perlu selalu menyempatkan waktu untuk bertemu. Google classroom sebenarnya adalah aplikasi baru bagi saya, saya baru menggunakannya di kelas Aplikasi Teknologi dan ternyata aplikasi ini tidaklah sulit untuk digunakan. Dari aplikasi ini, saya dapat submit tugas saya ke dosen tanpa harus memberikan hard copy, yangmana menurut saya lebih bijaksana dari pada selalu membuat print-out tugas perkuliahan. Dengan kata lain, kita dapat mulai menghemat penggunaan kertas, yang secara tidak langsung mengurangi penebangan pohon di hutan-hutan Indonesia. Selain itu melalui aplikasi ini, dosen dapat dengan mudah menyampaikan berbagai informasi, termasuk tugas dll. Dengan demikian komunikasi antara dosen dan mahasiswa menjadi jauh lebih efektif dibandingkan ketika menggunakan aplikasi lainnya, seperti WhatsApp dan Line.  Sementara Google+ membantu saya untuk sharing mengenai blog yang saya tulis dengan teman-teman yang saya kenal.
 Aplikasi foto satu-satunya yang saya gunakan adalah Snapchat. Frekuensi penggunaan aplikasi ini sebenarnya rendah, karena saya tidak menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman-teman saya, hanya saja saya menyukai filter yang ada di aplikasi ini. Saya terkadang menggunakannya dengan teman-teman dekat saya untuk mengambil foto-foto yang  menarik dan lucu. Mungkin menurut orang lain, menggunakan augment reality effect dan filter adalah hal yang tidak perlu dilakukan dan banyak orang enggna menggunakannya, tetapi apa boleh buat, saya menggunakannya karena saya menyukai feature-feature tersebut.
Sementara untuk Aplikasi Linkedln, saya menggunakannya untuk sarana promosi diri. Sebenarnya sebagian besar pengguna aplikasi ini adalah orang-orang yang profesional dan memiliki latar belakang bisnis. Sayangnya, saya belum menggunakan media sosial ini dengan maksimal. Saya belum terkoneksi dengan banyak orang di aplikasi ini. Sebenarnya, jika dimaksimalkan aplikasi ini akan membantu saya untuk memperkenalkan diri saya ke calon kolega atau perusahaan.
Dari semua sosial media yang saya ceritakan, manfaat yang saya rasakan selama ini sangat banyak. Saya lebih menjadi pribadi yang open-minded, informative, dan lebih up-to-date. Mengapa demikian, karena dari berbagai sosial media yang saya gunakan, saya bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai latar belakang. Dari sana, saya berusaha agar saya tidak membentuk stereotype-stereotype negatif mengenai latar belakang dan apa yang mereka sampaikan di sosial media. Dari berbagai informasi yang saya terima baik itu, artikel, berita, dan informasi di grup, saya dapat dengan mudah sharing mengenai berbagai hal, misalnya info kesehatan, edukasi, jual beli dan sebagainya. Selain itu, saya dapat dengan mudah mendapatkan informasi mengenai trend saat ini, misalnya model pakaian, tas, HP, kuliner, tanaman hias, dll. Jika orang lain menggunakan sosial media mereka untuk berjualan, saya menggunakannya untuk membandingkan harga.
Selain manfaat yang saya sampaikan di atas, ada berbagai hal yang saya benar-benar pertimbangkan selama saya menggunakan sosial media. Misalnya, menghindari overshare, karena overshare membuat orang lain merasa bosan, bahkan mungkin merasa terganggu. Saya juga mengunggah foto atau video sewajarnya saja, memilah konten dan beropini dengan kalimat-kalimat yang santun, serta sebisa mungkin meninggalkan komentar-komentar yang membangun.

0 komentar:

Post a Comment

Luangkanlah waktu untuk berkomentar di blog ini. Berkomentarlah secara bijak( jangan SPAM). Komentar anda adalah suatu kebanggaan buat saya.